Hari Bumi 2026: “Siji Bumi Tunggal Nafas” di Sanggar Anagata Merapi, Penanaman Beringin Putih dan Pelestarian Budaya Tradisional
Ribut Budi Santoso sedang memberikan pohon beringin putih kepada dalang wayang keyong, Mbah Janthit untuk ditanam di Sendang Panguripan, didampingi oleh ketua PAYB, mas Jack, serta relawan Padepokan Klampis Ireng Sragen, Sugiono, Senin 20 April 2026
Ribut Budi Santoso sedang memberikan pohon beringin putih kepada dalang wayang keyong, Mbah Janthit untuk ditanam di Sendang Panguripan, didampingi oleh ketua PAYB, mas Jack, serta relawan Padepokan Klampis Ireng Sragen, Sugiono, Senin 20 April 2026
Idnews.id. Boyolali, 22 April 2026 – Peringatan Hari Bumi 2026 bertajuk “Siji Bumi Tunggal Nafas” digelar di Sanggar Anagata Merapi dengan rangkaian kegiatan penanaman pohon beringin putih, pertunjukan seni tradisional, serta ajakan menjaga kelestarian alam dan budaya lokal. Acara ini dihadiri tokoh masyarakat Ribut Budi Santoso, relawan PAYB, JAGALAWU, PADEPOKAN KLAMPIS IRENG, RBEI, LOVELAND INDONESIA, QUANTUM MEDITATION, seniman, pegiat budaya, dan warga sekitar lereng Merapi.
Kegiatan berlangsung sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus penguatan nilai budaya tradisional di tengah perubahan zaman. Penanaman pohon beringin putih dipilih sebagai simbol kehidupan, keteduhan, dan keberlanjutan ekosistem yang harus dijaga bersama.

Acara digelar pada Senin, 20 April 2026, dalam rangka Hari Bumi di kawasan Sanggar Anagata Merapi yang dikenal sebagai ruang kreatif budaya dan pelestarian tradisi masyarakat lereng Merapi.
Tokoh masyarakat Ribut Budi Santoso hadir memberikan dukungan terhadap gerakan penghijauan dan pelestarian budaya. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan, kelestarian alam, dan identitas budaya lokal.

“Menanam pohon bukan hanya menjaga bumi, tetapi juga meninggalkan warisan kehidupan bagi generasi mendatang. Budaya dan alam adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” ujar Ribut Budi Santoso di sela kegiatan.

Selain penanaman pohon, peringatan Hari Bumi juga dimeriahkan dengan gelaran Wayang Keyong Mbah Janthit serta berbagai pertunjukan kesenian tradisional lainnya. Pentas budaya menjadi bagian penting dalam peringatan ini sebagai simbol harmoni manusia dengan alam.

Kegiatan berlangsung sejak siang hingga sore hari dengan melibatkan komunitas seni, pegiat lingkungan, pemuda, dan masyarakat umum. Rangkaian acara diawali dengan doa bersama, penanaman pohon, diskusi lingkungan, hingga pertunjukan budaya tradisional.

Melalui tema “Siji Bumi Tunggal Nafas”, penyelenggara berharap masyarakat semakin sadar bahwa bumi merupakan ruang hidup bersama yang harus dijaga secara kolektif. Penanaman pohon dan pelestarian seni budaya menjadi langkah nyata membangun kesadaran ekologis sekaligus memperkuat akar tradisi lokal. Sarsito